Sabtu, 07 November 2009

PUASA DAN IKHLAS

Semua kegiatan persembahan kepada Allah SWT melibatkan grakan fisik, kecuali puasa. Ia adalah ibadah yang tidak memiliki ciri berupa perkataan maupun bahasa/gerakan tubuh. Puasa hanyalah sikap hidup seseorang yang harus menahan makan, minum dan hubungan suami istri serta hal-hal yang membatalkan lainnya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa merupakan ibadah yang benar-benar individualistis/pribadi. Kita melakukan sahur dan menghindari segala yang membatalkan. Namun, jika kita melakukan makan dan minum di siang hari Ramadan secara sembunyti-sembunyi, tidak ada seorang pun yang bisa melihat kecuali Tuhan.


Atas dasar tersebut, puasa mendidik seorang Muslim untuk berbuat karena Allah. Ia hanya menginginkan penilaian Allah, bukan penilaian manusia. Hatinya senang dengan ibadah puasa yang ia lakukan kendati orang disekelilingnya tidak mengetahuai bahwa ia sedang berpuasa. Kesuksesan puasa sangat bergantung pada ikhlas tidaknya seseorang dalam menjalankanya. Sifat khusus ibadah puasa ini menunjukan bahwa kita harus memiliki keimanan yang kuat kepada Allah sebagai satu-satunya Yang Maha Melihat atas segala sesuatu. Semua peristiwa  tercatat dalam pengawasan-Nya. Rosulullah bersabda “ Barang siapa yang berpuasa dengan penuh rasa iman dan hanya karena Allah, dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (H.R. Bukhari dan Muslim).


Ikhlas pada hakikatnya kekuatan iman. Secara terminologis, ikhlas adalah mengarahkan segala orientasi tujuan dan amalnya hanya karena Allah dan membersihkannya dari segala kepentingan duniawi. Perang batin terkadang mendorong seseorang keluar dari kepribadian yang ikhlas. Terlalu kuat tarikan nafsu agar jauh dari sikap ikhlas. Untuk mengatasi hal itu, hendaknya seseorang mengarahkan setiap amalnya hanya kepada Allah semata. Konsekuensi dari ucapan La ilaha illallah adalah mengarahkan segala orientasi dan aksinya hanya tunduk kepada aturan Allah SWT. Tak ada yang dicari selain mengharapkan balasan dan pahala-Nya. Jika keikhlasan itu diutamakan dan diupayakan secara sungguh-sungguh, niscaya akan berhasil menaklukkan bisikan setan serta bahwa nafsu yang selalu condong kepada kejahatan.


Anjuran ikhlas dalam Alqur’an disebutkan melalui firman Allah yang berbunyi        “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.” (Q.S.Al-Bayyinah:5). Dalam ayat lain Allah juga berfirman.” Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam ibadatnya,” (Q.S. Al-Kahfi:110).


Nabi juga bersabda dalam sebuah hadis yang bersumber dari Umar bin Khatab         “Sesungguhnya amal itu harus dengan niat dan setiap orang yang beramal tergantung dari niatnya. Barang siapa yang hijranya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijranya tersebut untuk Allah dan rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijranya karena kehidupan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya tersebut tidak lain kepada yang ditujunya tersebut,” (HR. Bukhari dan Muslim).


Sedangkan riwayat Al-Hakim dari Muadz bin Jabal, “Sesungguhnya ia pernah meminta wasiat kepada Rasulullah ketika hendak pergi ke Yaman. Maka Rasulullah  bersebda : “ Laksanakan dien-mu (islam) dengan ikhlas, maka cukup bagimu amal yang sedikit.”


Semua amal yang diperbuat manusia termasuk puasa tidak akan diterima oleh Allah kecuali kalau mencukupi dua syarat : Pertama, harus sesuai dengan ketentuan syariat dan kedua, harus ikhlas karena Allah semata. Apabila suatu perbuatan dilakukan sesuai dengan syariat, akan tetapi tidak dilakukan dengan ikhlas, maka amal perbuatan tersebut niscaya akan ditolak, Demikian  pula jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak sesuai dengan ketentuan syariat, maka amalnya tersebut akan ditolak pula.


Fadhil bin Iyadh berkata. “ Setiap amal yang diterima Allah, adalah amal yang dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan keikhlasan, yang dimaksud amal yang benar adalah amal yang sesuai dengan syariat, sedangkan yang dimaksud amal yang ikhlas, adalah amal yang ditujukan kepada Allah semata.”


Ikhlas sebagai out put dari tarbiyah shaum, sangat diperlukan dalam mereformasi kehidupan manusia menuju kepada kedamaian dan ketenteraman. Ikhlas akan mereduksi sikap munafik. Pemimpin yang munafik hanya akan melahirkan malapetaka bagi rakyatnya karena ia akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi kekuasaannya.


Puasa yang dilakukan tanpa keikhlasan, akan menyebabkan seseorang tidak bisa menjauhkan diri dari segala perbuatan maksiat. Ia berpuasa, tetapi masih senang mengumpat, mencaci atau pun berbohong. Memang dalam tinjauan fikih, perbuatan maksiat tidaka akan membatalkan puasa. Hanya saja, tentu puasa yang seperti ini tidak akan mendapat pahala yang besar seperti apa yang dijanjiakan Allah. Rosulullah bersabda.” Berapa banyak orang yang melakukan puasa tapi tidak memperoleh apa pun kecuali lapar dan haus, dan berapa banyak orang yang beribadah siang dan malam tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa kantuk.” (HR. Ad-Darimi).






cepsasdika.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar